Roberto Baggio gagal mengeksekusi penalti dikala Italia berhadapan dengan Brasil di final Piala Dunia 1994 (Shaun Botterill/Getty Images)Jakarta - Roberto Baggio yaitu seorang andal set piece. Performanya yang memukau mengantar Italia ke final Piala Dunia 1994. Maka kegagalan ia mengeksekusi penalti yaitu sebuah bencana.
Kalau ada peristiwa-peristiwa yang sanggup dianggap sebagai peristiwa di sepanjang sejarah Piala Dunia, maka kegagalan penalti Roberto Baggio di 1994 yaitu salah satunya. Baggio tak layak mendapatkan kepahitan itu, sehabis apa yang ia pertunjukkan di sepanjang turnamen.
Tapi sejarah sudah tertulis. Kegemilangan Baggio di Piala Dunia 1994 ditutup bayang-bayang gelap kegagalan penalti dan kegagalan Italia gagal jadi juara karena kalah dari Brasil dalam sabung tos-tosan di babak final.
Italia di Piala Dunia 1994
Italia tiba ke Piala Dunia 1994 dalam kondisi di mana sepakbola mereka tengah berada di salah satu periode terbaik. Tiga pemain termahal dunia bermain di Serie A ketika itu, Gianluigi Lentini, Jean-Pierre Papin dan Gianluca Vialli.
Di kompetisi domestik AC Milan gres meraih gelar ketiganya secara beruntun. Milan meneruskannya dengan meraih kemenangan 4-0 atas Barcelona-nya Johan Cruyff di final Liga Champions. Itu menciptakan para pemain Milan semisal Baresi, Maldini, Donadoni, Albertini dan Massaro menjadi langganan starter. Ada juga Beppe Signori, yang gres saja merebut gelar topskorer untuk kali kedua secara beruntun.
Tapi Italia mengawali Piala Dunia 1994 dengan kesulitan. Mereka kalah 0-1 dari Republik Irlandia di laga pertama, cuma menang 1-0 atas Norwegia di pertandingan kedua, dan Berimbang 1-1 kontra Meksiko di laga terakhir fase grup.
Grup tersebut hingga sekarang masih jadi satu-satunya grup di Piala Dunia yang keempat timnya punya poin sama dan selisih gol yang juga sama.
Klasemen final fase grup daerah Italia bergabung di Piala Dunia 1994 Foto: ist. |
Di fase gugur pertama besar Italia bertemu Nigeria. Di babak pertama mereka tertinggal 0-1 berkat gol Emmanuel Amunike. Gianluza Zola masuk lapangan di babak kedua untuk menambah variasi serangan, tapi malah sanggup kartu merah 10 menit kemudian. Tertinggal satu gol dan kalah jumlah pemain menciptakan Italia berada di ujung tanduk.
Italia tampaknya akan kalah, hingga balasannya di menit 88 Roberto Baggio mencetak gol untuk memaksakan laga lanjut ke perpanjangan waktu. Roberto Mussi melaksanakan cut in sehabis menusuk di sayap kanan, ia melepaskan umpan ke Baggio sehabis melewati bek lawan. Sepakan Baggio mengubah kedudukan jadi 1-1.
Di perpanjangan waktu, Baggio melepaskan umpan ke Antonio Benarrivo yang memecah pertahanan Nigeria. Benarrivo dilanggar di kotak penalti. Baggio mencetak gol keduanya pada laga itu lewat sanksi dari titik putih.
Melangkah ke perempatfinal, Italia berhadapan dengan Spanyol. Dino Baggio sempat menciptakan Italia unggul meski kemudian disamakan Jose Luis Perez Caminero. Dalam kedudukan 1-1 di menit 88, (Roberto) Baggio muncul lagi sebagai pendekar penentu kemenangan Italia dengan golnya. Baggio memperdaya Andoni Zubizarreta untuk merampungkan serangan balik cepat Gli Azzurri.
Roberto Baggio dikala akan mencetak gol penentu kemenangan Italia atas Spanyol di Piala Dunia 1994 Foto: Simon Bruty/ALLSPORT |
Bulgaria gantian mengadang Italia di babak semifinal. Hristo Stoickov, topskorer turnamen bersama Oleg Salenko, menjebol gawang Italia melalui penalti di menit 44.
Tapi Italia ketika itu sudah unggul 2-0. Roberto Baggio mencetak kedua gol Italia, yang pada balasannya menjadi penentu diraihnya tiket ke final, pada menit 21 dan 25.
Seandainya Baggio Tak Main di Final
Roberto Baggio terancam mangkir di final Piala Dunia 1994 menghadapi Brasil. Dia mengalami cedera dan ditarik keluar lapangan dikala laga dengan Bulgaria masih tersisa 20 menit.
Cedera Baggio ketika itu gotong royong tak parah, tapi ia cuma punya waktu dua hari untuk pemulihan. Baggio sendiri punya hasrat besar untuk main, meski ia juga khawatir cederanya akan lebih parah.
Pada pagi sebelum pertandingan, ratusan penganut Budha berkumpul di sebuah daerah ibadah mendoakan Baggio pulih untuk final. Baggio, yang menjadi penganut Budha semenjak 1980-an, telah mendonasikan uang untuk merenovasi daerah ibadah tersebut. Baggio juga sudah membiayai beberapa biksu terbang ke Italia untuk bertemu dengannya.
Pada balasannya Baggio bermain di final menghadapi Brasil. Skor bertahan 0-0 hingga perpanjangan waktu tuntas. Dan dikala sabung tendangan penalti, bola sepakan Baggio melayang tinggi jauh di atas mistar gawang Claudio Taffarel. Penalti terburuk yang pernah diambil Baggio.
Sebenarnya bukan Baggio saja yang gagal mengeksekusi penalti. Franco Baresi dan Daniele Massaro juga gagal merampungkan tugasnya. Tapi kegagalan sanksi penalti Baggio yaitu yang paling sulit diterima.
"Sayangnya, saya tidak tahu kenapa, bolanya melayang ke atas tiga meter dan melebihi mistar gawang. Untuk mengambil penalti sebagai penendang pertama, saya kelelahan dikala itu, tapi saya yaitu pengambil penalti tim. Saya tak pernah lari dari tanggung jawab," ucap Baggio.
Roberto Baggio Pasca Piala Dunia 1994
"Saya gagal ketika itu. Dan itu mempengaruhi saya bertahun-tahun. Itu periode terburuk dalam karier saya. Saya masih memimpikan momen itu. Jika saya sanggup menentukan momen untuk dihapus dalam karier saya, itu yaitu Piala Dunia 1994."
Kegagalan mengeksekusi penalti memberi imbas sangat besar dalam karier Baggio selanjutnya. Usia Baggio dikala itu gres 27 tahun, periode emas banyak pesepakbola dunia. Tapi sehabis itu, tak banyak lagi yang sanggup ia torehkan.
Antara Juli 1994 hingga Juni 1998, Baggio cuma main empat kali untuk Timnas Italia. Arrigo Sacchi tak menyertakan Baggio pada Piala Eropa 1996. Di level klub nasibnya sama saja. Dia menjalani satu ekspresi dominan lagi bersama Juventus sebelum dilepas ke AC Milan oleh Marcello Lippi.
Di San Siro, Baggio menjalani periode yang tidak mudah. Terlebih dikala Sacchi tiba menjadi pelatih. Baggio lantas membela Bologna selama satu musim, kemudian berseragam Inter Milan untuk dua tahun dan menutup kariernya bersama Brescia di tahun 2004.
"Yang kadang terlupakan adalah, bahkan kalau saya mencetak gol, Brasil masih mungkin menang dengan (penendang) penalti terakhir, alasannya yaitu sebelum saya Baresi dan Massaro gagal. Itu yaitu kepingan dari pertandingan. Saya gagal di penalti terakhir, dan kegagalan itu 'menutupi' yang terjadi pada Baresi dan Massaro."
"Dari final itu mereka harus menentukan dan mereka menentukan kesalahan yang saya lakukan. Untuk sebuah perubahan. Mereka menginginkan domba untuk dikorbankan dan saya dipilih. Melupakan fakta bahwa tanpa saya, kami tidak akan sanggup melangkah ke final. Setelah kegagalan penalti itu saya tertegun dan termenung ibarat itu beberapa lama. Saya tak sanggup mendapatkan final ibarat itu. Saat teman-teman saya makan bersama, saya mengunci diri dalam kamar," kenang Baggio.
Klasemen final fase grup daerah Italia bergabung di Piala Dunia 1994 Foto: ist.
Roberto Baggio dikala akan mencetak gol penentu kemenangan Italia atas Spanyol di Piala Dunia 1994 Foto: Simon Bruty/ALLSPORT
Comments
Post a Comment