Skip to main content

Video Anak Main Basket Ini Buktikan Perbedaan Itu Indah

Oklahoma - Saat anak kita mempunyai warna kulit beda dengan secara umum dikuasai anak lain sanggup jadi ada kekhawatiran anak bakal didiskriminasi. Tapi, akan jadi sesuatu yang indah ketika anak kita sanggup diterima oleh anak lain.

Ya, perasaan senang itu dialami seorang ibu berjulukan Christy Lee Rowden. Jadi, Christy mengadopsi dua anak asal Uganda yaitu Asher (7) dan Mercy (5) semenjak mereka berumur 2 dan 3 tahun. Karena tinggal di Oklahoma, kebanyakan bawah umur di sana berkulit putih. Sebagai ibu, Christy sempat mempunyai kekhawatiran anaknya nggak akan ditemani anak lain.

Tapi ternyata Christy salah, Bun. Tanggal 21 Mei lalu, ia dan Asher serta Mercy pergi ke Oologah City Park dan di sana ada anak kelas 5 SD bermain basket. Diakui Chisty Asher yaitu anak yang slow to warm up. Artinya bila bertemu orang gres ia perlu waktu untuk sanggup menyesuaikan diri dan akrab.

"Asher hanya bangun di sisi lapangan dan melihat anak itu bermain. Tapi tiba-tiba anak yang lebih bau tanah menghampirinya, berkenalan dan ia mengajak Asher main basket. Asher dengan senang hati pun ikutan bermain. Saat ia berhasil memasukkan bola ke ring, bawah umur itu bersorak dan memuji Asher bahkan mereka melaksanakan high five," kata Christy kepada Babble.



Nggak cuma itu, Bun. Mercy yang ikutan menyaksikan agresi kakaknya itu ikutan senang lho. Terlebih Asher memang diperlakukan dengan baik oleh anak-anak itu. Selama ini, Christy memang mempersilakan Asher main dengan siapapun meskipun ia agak khawatir Asher diperlakukan kurang baik oleh bawah umur yang belum dikenalnya.

"Mereka menyambut Asher dengan baik seakan Asher yaitu yeman setimnya. Itu bikin hati saya terenyuh. Saya ingin membagi pengalaman ini semoga orang bau tanah bawah umur tersebut tahu apa hal berarti yang udah dilakukan anak-anaknya. Terlebih ketika video ini viral saya shock banget," papar Christy.

Di halaman Facebook-nya, Christy meminta bila ada orang yang kenal dengan guru atau orang bau tanah bawah umur kelas 5 SD itu untuk mentag-nya di Facebook. Christy berharap bawah umur itu sanggup menerima apresiasi dari apa yang sudah ia lakukan.



Kata psikolog klinis, Christina Tedja yang erat disapa Tina, intinya nggak ada anak yang rasis, semua hanya berguru dan input warta dari sekitar. Makanya, Tina berpesan hal yang perlu dihindari ketika bicara dengan anak yaitu ketidaksengajaan menggiring anak pada opini publik terkait perbedaan agama. Dengan kata lain cara tersimpel mengajarkan anak untuk mendapatkan perbedaan antar agama, suku, dan etnis dimulai dari si orang bau tanah sendiri.

"Termasuk evaluasi sehari-hari terhadap orang yang beda etnis dan agama. Dengan merespons baik segala perbedaan yang ada, anak akan meniru. Sebaliknya apabila kita melihat perbedaan saja, kemudian ngomel terkait insiden itu atau protes, anak akan membentuk teladan pikir yang sama," tutur Tina.











Comments